Fraktur tulang atau patah tulang adalah kondisi medis yang sering terjadi akibat trauma, kecelakaan, atau tekanan berlebih pada tulang. Penanganan fraktur sangat bergantung pada jenis, lokasi, dan tingkat keparahan cedera. Tidak semua fraktur harus dioperasi, beberapa cukup ditangani dengan metode konservatif seperti pemasangan splint atau gips. Namun, ada kondisi tertentu yang memerlukan intervensi bedah agar tulang dapat kembali pulih secara optimal dan mencegah komplikasi jangka panjang.
Memahami perbedaan antara fraktur yang bisa ditangani tanpa operasi dan yang memerlukan tindakan bedah sangat penting agar pasien bisa mendapatkan perawatan yang tepat. Di Orthopedic Clinic Surabaya, pendekatan ini dilakukan secara individual berdasarkan hasil pemeriksaan klinis dan pencitraan medis. Artikel ini akan membahas lebih lanjut mengenai klasifikasi fraktur dan panduan kapan tindakan operasi menjadi pilihan terbaik.
Jenis-Jenis Patah Tulang
Patah tulang bisa dibagi menjadi beberapa jenis berdasarkan kondisinya, yaitu:
- Patah Tulang Tertutup
Pada patah tulang tertutup, tulang yang patah tidak merobek kulit, sehingga luka tidak terlihat di luar tubuh.
- Patah Tulang Terbuka
Berbeda dengan patah tulang tertutup, patah tulang terbuka terjadi ketika ujung tulang yang patah menembus kulit, sehingga tulang dan jaringan di bawah kulit menjadi terlihat.
- Patah Tulang Tidak Lengkap
Pada jenis ini, tulang tidak patah sepenuhnya. Hanya terjadi retakan atau tulang yang bengkok, seperti pada:
- Hairline Fracture, retakan halus pada tulang.
- Greenstick Fracture merupakan salah satu sisi tulang retak dan bengkok.
- Buckle Fracture adalah tulang retak namun tidak terpisah, bagian yang retak menonjol.
- Patah Tulang Lengkap
Pada patah tulang lengkap, tulang patah menjadi dua bagian atau lebih, seperti:
- Single Fracture yaitu satu bagian tulang patah menjadi dua.
- Comminuted Fracture yaitu tulang hancur menjadi tiga bagian atau lebih.
- Compression Fracture yaitu tulang hancur karena tekanan.
- Displaced Fracture yaitu tulang patah dan bergeser dari posisi semula.
- Nondisplaced Fracture yaitu tulang patah, tetapi tetap berada di posisi semula.
- Segmental Fracture yaitu tulang patah menjadi dua bagian terpisah.
- Avulsion Fracture yaitu patah tulang terjadi dekat tendon atau ligamen, menarik potongan tulang kecil dari bagian utama.
Pengobatan Patah Tulang
Pengobatan patah tulang bergantung pada jenis patahan, lokasi tulang yang patah, dan kondisi tubuh pasien. Tujuan utama pengobatan adalah menyatukan kembali tulang yang patah dan menjaga agar tetap stabil hingga proses penyembuhan terjadi. Untuk patah tulang yang disertai perdarahan hebat, langkah pertama yang dilakukan adalah menghentikan perdarahan dan menstabilkan kondisi pasien agar tidak mengalami syok.
Metode pengobatan untuk patah tulang meliputi beberapa cara:
- Obat-obatan untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah infeksi, terutama pada patah tulang terbuka.
- Pemasangan gips yang berfungsi untuk menstabilkan tulang dan mencegah pergerakan selama penyembuhan.
- Traksi, untuk meratakan tulang yang patah dan meregangkan otot serta tendon di sekitarnya.
- Operasi, dilakukan pada patah tulang yang parah dengan menggunakan pen, plat, atau sekrup untuk menyambungkan bagian tulang yang patah.
Untuk fraktur yang tidak terlalu parah, splint (penyangga) sering digunakan sebagai pengobatan sementara untuk memberikan dukungan dan menjaga tulang tetap stabil sampai mendapatkan perawatan lebih lanjut. Pasien yang mengalami patah tulang perlu menjalani kontrol rutin untuk memastikan penyembuhan berjalan lancar dan sesuai dengan rencana pengobatan.